INILAHCOM, Manchester - Dicoret dari persaingan juara
tak lantas membuat pelatih Manchester City, Manuel Pellegrini,
pesimistis. Keyakinannya pun terbukti di akhir musim.
City akhirnya memastikan gelar juara pada laga terakhir musim ini dengan mengalahkan West Ham United. Setelah menjalani 38 laga, The Citizens mengumpulkan 86 poin, unggul dua dari Liverpool.
Padahal, peluang mereka sempat menipis akibat dua hasil buruk di pekan ke-32 dan 33. Kekalahan dari Chelsea dan hasil imbang lawan Sunderland membuat mereka berjarak sembilan poin dari Liverpool.
Meski masih mengantongi dua laga lebih banyak, nasib gelar juara saat itu ada di tangan The Reds.
“Bagi saya, ada dua momen (yang menjadi penentu gelar juara),” kata Pellegrini seperti dikutip dari Manchester Evening News.
“Salah satunya adalah saat kami memainkan enam laga tandang pertama dan hanya mendapatkan empat poin, saya berbicara dengan para pemain dan kami tetap bermain dengan cara yang sama. Sejak saat itu, saya rasa tim kami menjadi tim dengan perolehan poin terbanyak pada laga tandang,” ia menambahkan.
Momen krusial kedua bagi perjalanan The Citizens musim ini adalah kekalahan 2-3 di Anfield dari Liverpool.
“Kami tak layak kalah 3-2. Kami tak pernah berhenti berharap Liverpool kehilangan poin. Itu bukanlah pekan yang terbaik,” pelatih berusia 60 tahun itu menambahkan.
Keyakinan Pellegrini berbuah hasil. City berhasil menyapu bersih laga terakhir dengan kemenangan.
Di mana ada usaha, di situ ada jalan. Setelah The Citizens memaksimalkan semua peluang yang dimiliki, Sang Takdir pun membukakan jalan. Liverpool tersandung di dua laga krusial pada pekan ke-36 dan ke-37. Setelah kalah dari Chelsea, Steven Gerrard dkk bermain imbang 3-3 lawan Crystal Palace, meski sempat unggul 3-0. The Citizens pun kembali ke puncak dan keluar sebagai juara di akhir musim.
City akhirnya memastikan gelar juara pada laga terakhir musim ini dengan mengalahkan West Ham United. Setelah menjalani 38 laga, The Citizens mengumpulkan 86 poin, unggul dua dari Liverpool.
Padahal, peluang mereka sempat menipis akibat dua hasil buruk di pekan ke-32 dan 33. Kekalahan dari Chelsea dan hasil imbang lawan Sunderland membuat mereka berjarak sembilan poin dari Liverpool.
Meski masih mengantongi dua laga lebih banyak, nasib gelar juara saat itu ada di tangan The Reds.
“Bagi saya, ada dua momen (yang menjadi penentu gelar juara),” kata Pellegrini seperti dikutip dari Manchester Evening News.
“Salah satunya adalah saat kami memainkan enam laga tandang pertama dan hanya mendapatkan empat poin, saya berbicara dengan para pemain dan kami tetap bermain dengan cara yang sama. Sejak saat itu, saya rasa tim kami menjadi tim dengan perolehan poin terbanyak pada laga tandang,” ia menambahkan.
Momen krusial kedua bagi perjalanan The Citizens musim ini adalah kekalahan 2-3 di Anfield dari Liverpool.
“Kami tak layak kalah 3-2. Kami tak pernah berhenti berharap Liverpool kehilangan poin. Itu bukanlah pekan yang terbaik,” pelatih berusia 60 tahun itu menambahkan.
Keyakinan Pellegrini berbuah hasil. City berhasil menyapu bersih laga terakhir dengan kemenangan.
Di mana ada usaha, di situ ada jalan. Setelah The Citizens memaksimalkan semua peluang yang dimiliki, Sang Takdir pun membukakan jalan. Liverpool tersandung di dua laga krusial pada pekan ke-36 dan ke-37. Setelah kalah dari Chelsea, Steven Gerrard dkk bermain imbang 3-3 lawan Crystal Palace, meski sempat unggul 3-0. The Citizens pun kembali ke puncak dan keluar sebagai juara di akhir musim.





0 comments:
Post a Comment